Home > Thought > Kepala Ayam vs Buntut Gajah

Kepala Ayam vs Buntut Gajah


Kemarin, saat saya jalan-jalan bersama keluarga dan saya membeli kemeja untuk keperluan kerja praktek, tercetuslah sedikit pembicaraan diantara kami. “Ah, ga usah pilih-pilih, ntar juga jarang dipake kalo udah ga KP”. “Iya, kan nanti mau usaha”. “Iya daripada jadi buntut gajah, mendingan jadi kepala ayam” (kurang lebih begitu lah intinya)

Sudahkah kita berpikir, “kita mau jadi apa ya nanti”?

Sebagai manusia  dewasa (atau setidaknya merasa dewasa), kita tentunya harus memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan hidup (baca: kerja). Ya mau gimana lagi, kalo ga kerja gimana mau hidup… Terus, apa hubungannya sama kepala ayam dan buntut gajah?

Nah, untuk seseorang yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja seperti saya, untuk memulai hidup di dunia kerja kelak haruslah dimulai dari bawah (atau kata lain mulai dari nol). Jika ingin bekerja dengan orang, seperti bekerja di Bank XXX misalnya, tentunya haruslah “mencicipi” dahulu bagaimana rasanya sebagai pegawai. Jika ingin buka usaha, usaha yang ingin dijalankan tidaklah dapat langsung membuat usaha besar, usaha yang dibuka pasti usaha kecil-kecilan terlebih dahulu. Disinilah istilah “kepala ayam” dan “buntut gajah” itu muncul.

“Buntut gajah” merupakan sebutan yang pada tulisan ini diberikan untuk seseorang yang berkerja sebagai pegawai di perusahaan orang, yang mungkin cukup besar, seperti Bank XXX misalnya. Kita bekerja dengan rutin sesuai jadwal yang diberikan perusahaan, dengan pakaian resmi yang sudah ditentukan, dan diberi upah (gaji) juga pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini bukan suatu yang buruk, karena jika perusahaan yang kita ikuti adalah perusahaan besar (gajah), tentunya upah yang diberikan biasanya tidaklah sedikit. Namun ya itu, banyaknya ketentuan yang membuat kita terikat didalamnya.

Bagaimana dengan “kepala ayam”? Seseorang yang membuka usaha kecil-kecilan, atau mungkin software house start-up buat anak Informatika. Yang mana tidak ada peraturan yang diberikan orang lain dimana peraturan-peraturan tersebut dapat mengikat kita. Namun begitu, kita tidak mendapat kepastian apakah kita selalu akan mendapatkan keuntungan?

Yah, kembali ke pribadi masing-masing. Masing-masing sepertinya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun apabila kita menekuninya dengan sungguh-sungguh, bukanlah tidak mungkin kita nanti akan menjadi “kepala gajah” :D

Jadi? Mau jadi apa kita?

Kepala ayam? Atau buntut gajah? Atau bahkan kepala gajah?

Itu tergantung niat dan usaha masing-masing :)

Just my opinion :)

Advertisements
Categories: Thought
  1. No comments yet.
  1. May 30, 2011 at 4:38 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: